Beternak Blog Memang menyenangkan, tapi itu jika banyak waktu senggang , nah di akhir tahun seperti saat ini apalagi saat ujian semester ganjil tiba , tidak ada lagi waktu untuk menikmati blogging, semuanya terganti kesibukan menulis kisi-kisi soal, membuat soal lalu memeriksa hasil ujian dan mengelola nilai-nilai untuk menjadi nilai final di Buku Laporan Siswa, apalagi saya yang harus mengatur pembagian tugas untuk semester genap nanti.
Aku Punya blog wordpress yang url nya sama persis dengan blog ini SMP 3 Lembang , blog tersebut sudah lama sekali nggak diupdate akhirnya saya ambil keputusan bahwa konten blog itu akan saya ambil dari karya siswa , jadi tulisan siswa akan saya posting entah apapun hasilnya.
Kemarin beberapa siswa telah memasukkan karyanya , jadi saya tidak memberi limit apa saja boleh ditulis termasuk uneg-uneg mereka atau bagaimana perasaan mereka selama menjadi siswa di Sekolah kami. Sebenarnya saya ingin posting semua tulisan itu di blog worpress tersebut, namun sebuah karya dari murid saya yang paling bandel mneyentak saya dan akhirnya saya tulis disini karena tulisan tersebut menohok saya dan tentu saja semua guru yang sering menghadapinya.
Inilah Tulisan yang lahir dari pemikiran Murid saya tersebut
Tidak ada yang pernah tanya, kenapa saya nakal
Tidak ada yang pernah tanya, kenapa saya sering terlambat
Tidak ada yang pernah tanya, kenapa saya tidak bisa menyayangi teman
Tidak ada yang pernah tanya, Kenapa saya suka mengganggu teman
Sekarang saya akan beritahu , saya nakal karena saya memang tidak pernah di didik dengan baik di rumah , di Sekolah pun sebagian besar guru datang hanya mengajar tetapi tidak mendidik.
Sekarang Saya akan beritahu, saya sering terlambat karena sebelum ke sekolah saya harus masak, membersihkan rumah dan menyuapi nenek saya yang lumpuh sejak setahun lalu, dan hanya neneklah teman saya di dunia ini.
Sekarang saya akan beritahu, saya tidak bisa menyayangi karena saya tak pernah merasakan kasih sayang orang tua, ayah mengawini ibu lalu berangkat ke Malaysia meninggalkan ibu dalam keadaan mengandung saya, dan setelah saya berumur 1 tahun , saya ditinggal pula oleh ibu untuk menyusul ayah dan sampai sekarang saya tak tahu dimana rimba mereka.
Sekarang saya akan beritahu, saya suka mengganggu teman agar bisa masuk ruang BP , di hukum dan kemudian dinasehati oleh guru-guru BP, dengan demikian terasa mereka memperhatikan aku dan rasanya seperti berkurang beban di pundak aku
Jadi Sekarang anda sudah tahu
Meski ditulis oleh siswa paling nakal di sekolah aku namun tulisan ini membuat saya berpikir apakah selama ini kami kurang perhatian dengan siswa-siswi kami, atau memang kami cuma mengajar tidak mendidik, sepertinya kam iharus mengevaluasi ulang pembelajaran kami
Sejak 6 tahun ini saya mengajar di sebuah daerah terpencil, awal-awalnya saya selalu merasa tidak beruntung , akibatnya saya banyak mengeluh karena kelelahan, apalagi melihat teman-teman seangkatan aku yang hampir sebagian besar sudah mutasi ke kota , bahkan ada yang baru bertugas selama satu tahun sudah mutasi juga.
Tapi orang bijak mengatakan ambillah hikmah dari sebuah hal atau peristiwa, dan ternyata berkat tugas di daerah terpencil , aku dapat banyak hal , pelatihan yang hampir tiap bulan , kemudian mendapatkan fasilitas IT yang lengkap dan yang paling membahagiakan saya dapat membagi pengetahuan yang saya dapat dari pelatihan dengan guru - guru daerah terpencil lainnya.
Ketika Pelatihan kemarin di Makassar , akhirnya aku merasa Sekolah Aku bukanlah daerah terpencil karena masih bisa dijangkau dengan kendaraan beroda empat, jika aku bandingkan dengan pak Ikhsan guru asal Kab. Pangkep yang tempat tugasnya di pulau yang ternyata lebih dekat ke Bali atau Nusa Tenggara atau pak Rasmen asal Luwu Utara yang untuk menjangkau sekolahnya dari ibukota kecamatan harus naik ojek dengan biaya 500 ribu , wah sekolah saya sih cuma perlu 1 jam dari ibukota kabupaten , kalau mereka perlu dua hari perjalanan dan mereka dengan ikhlas menjalani meski beberapa dari mereka masih berstatus honorer.
Dan Kemarin di inbox FB aku ada dua pesan masuk dari Pak Ikhsan katanya, Bapak sudah sampai ya di rumah , wah senang tuh bisa secepatnya melatih teman-teman yang lain, kami masih di Makassar masih menunggu kapal yang akan berangkat ke Pulau , sudah 2 hari cuaca laut tidak mendukung dan tidak ada kapal yang berani melaut, maklum kapal yang kami tumpangi cuma kapal kayu yang bisa oleng jika kena ombak tinggi.
Aku semakin bersyukur dan sekaligus merasa malu, selama ini aku sering mengeluh karena jarak sekolah aku
yang begitu jauh, ternyata itu belum seujung kuku jika dibandingkan dengan teman-teman lain yang betul-betul mengabdi dengan ikhlas di pulau-pulau atau jauh didalam hutan seperti di Luwu utara.
Ampunkan aku Ya Allah yang terlalu banyak mengeluh
Salah satu yang menjadi grand design dari KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL DITJEN MANDIKDASMEN DIREKTORAT PEMBINAAN SMPtahun 2010 adalah terlaksananya Pendidikan Karakter di Sekolah, dimana hal ini bersinergi dengan anjuran Mendiknas untuk menggalakkan siswa sadar berkonstitusi.
Pendidikan karakter adalah upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil , dimana tujuan Pendidikan Karakter adalah Meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
Sehingga setelah lulus maka akan lahir siswa yang memiliki karakter, sadar berkonstitusi dan tentu saja tidak suka tawuran, atau tindakan kekerasan lainnya. Adapun nilai-nilai yang perlu diinternalisasikan oleh guru saat mengajarkan mata pelajarannya di Sekolah adalah :
Religius
Jujur
Toleran
Disiplin
Kerjakeras
Kreatif
Mandiri
Demokratis
Rasa ingintahu
Semangat kebangsaan
Cintatanah air
Menghargaiprestasi
Bersahabat/komunikatif
Cintadamai
Senangmembaca
Pedulisosial
Pedulilingkungan
Tanggungjawab
Semoga dengan pelaksanaan pendidikan karakter di semua sekolah di Indonesia maka kita tidak akan melihat lagi siswa tawuran, narkoba ataupun berbuat kejahatan lainnya, dan pada saat UN nanti tidak ada lagi siswa menghalalkan segala cara agar bisa lulus Amin
Mulai dari tanggal 26 - 30 Oktober ini saya di beri kepercayaan untuk mengikuti BIMTEK Ujian Nasional di Hotel Singgasana Makassar, jadi maaf untuk sahabat jika ada yang tidak bisa saya kunjungi balik untuk saat ini karena jadwal kegiatan yang begitu padat. dan saat ini hanya bisa posting seperti ini saja:
Secara nasional, rata-rata hasil UN SMP, termasuk SD-SMP Satu Atap tahun 2005/2006 (7,07), 2006/2007 (7,02), tahun 2007/2008 (6,87), tahun 2008/2009 (7,36), dantahun 2009/2010 (7,36) sebenarnyacukup baik.
Namun demikian, sejumlah provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah (SMP) pada tahun 2009/2010 belum menunjukkan hasil yang menggembirakan dengan ditandai oleh rendahnya rerata nilai UN dan tingginya angka ketidaklulusan. Jumlah SMP yang nilai rata-rata UN di bawah 5,50 pada tahun 2009/2010 masih besar.
SD-SMP Satu Atap termasuk diantara SMP yang hasil UN-nya rendah. Sekolah-sekolah tersebutmemerlukan bimbingan danpendampingan teknis yang secara khusus dapat memfasilitasi mereka melakukan pembelajaran, persiapan-persiapan, dan pelaksanaan ujian nasional dengan lebih baik sehingga pencapaian nilai rerata UN dan angka kelulusan meningkatsecara berarti. Namun walau prestasi Nilai UAN di Indonesia sudah mulai baik , namun jika kita mau jujur dari nilai tersebut kira-kira yang berada didaerah putih berapa persen, daerah abu-abu berapa persen dan daerah hitam berapa persen. Ya karena para pendidik paling sering merasakan dilema antara melepas anak berjuang secara jujur ataupun memakai cara-cara yang tidak jujur .
Seorang bayi adalah ibarat kaset kosong yang siap digunakan untuk merekam apa saja. Dia bisa digunakan untuk merekam dan menyimpan cacian, umpatan, makian, kemarahan ataupun hal buruk lainnya. Pun demikian bisa kita gunakan untuk merekam kata-kata indah penuh kelembutan, perkataan-perkataan bijak penuh hikmah, senandung kesyukuran, lantunan kalam suci illahi dan hal-hal bermanfaat dan terpuji lainnya.
Semua itu tergantung pada kita sebagai pihak yang bertugas memberikan hal-hal yang hendak dia rekam. Kitalah sekolah pertama bagi mereka. Seorang anak sendiri dalam proses tumbuh dan kembangnya akan melalui beberapa tahapan pendidikan. Hingga usia 5 tahun, paling tidak seorang anak akan melewati tahapan pendidikan pembiasaan, pengenalan hukum, pengenalan disiplin dan membangun pemahaman dasar dengan pendekatan yang bergerak dari yang bersifat konkret ke abstrak, dari aqidah ke pengenalan hukum dan konstitusi , dari hal-hal pokok ke detil/cabang.
Diantara pembiasaan yang kita bisa lakukan sejak dini adalah terbiasa disiplin dan mematuhi peraturan sekolah, terbiasa senyum ramah pada orang, dan kebiasaan-kebiasaan lain yang menjadi aktivitas keseharian kita. Untuk bisa melakukannya memang mengharuskan kita sebagai orang tua atau guru harus bisa menjadi teladan pertama dan utama bagi anak. Jadi jika ingin membiasakan siswa kita taat aturan maka kita pertama harus lebih dulu taat aturan . Yang perlu diingat oleh kita selaku orang tua guru pada waktu melakukan proses pembiasaan ini adalah kedisiplinan atau Ketelatenan. Jangan kadang dilakukan, tapi kadang tidak. Hal itu akan mempersulit kita meraih keberhasilan.
Kalau kita displin , rasa sulit atau berat hanya akan kita rasakan di awal-awal kita memulai kebiasaan baru tersebut saja, berikutnya akan mengalir dengan jauh lebih mudah. Terkadang, diantara alasan para orang tua atau guru kurang bisa disiplin melakukan pembiasaan tersebut adalah rasa malas, merasa tidak ada manfaatnya karena saat itu anak kita belum displin atau masih sering melanggar peraturan di rumah atau sekolah , merasa masih cukup memiliki waktu untuk melakukannya di lain waktu, menunggu anak atau siswa kita lebih besar dan pintar dulu dan beberapa alasan lain yang mungkin lebih karena ketidaktahuan kita akan potensi daya ingat dan juga dengan prinsip ala bisa karena biasa. Maka lihatlah, ketika kita selalu membiasakan anak atau siswa untuk taat dan disilin pada peraturan sejak dini maka ketika ia dewasa , ia akan tumbuh menjadi anak atau siswa yang sadar serta taat kepada aturan
Supervisi guru adalah salah satu tugas yang paling penting dari seorang Pengawas dan Kepala Sekolah . Kepala sekolah memiliki tanggung jawab untuk membantu guru dalam Pengembangan profesi mereka, dan sebaliknya . Kepala sekolah atau Pengawas adalah aset bagi seorang guru. Mereka dapat membantu guru mengenali kelebihan dan kekurangan guru dalam hal Proses Belajar mengajar serta Administrasi , Pengawas dan Kepala Sekolah akan membantu guru memperkuat kelemahan . pengawas memainkan peran penting dalam memotivasi guru dan membantu guru mengembangkan kompetensi serta keterampilan instruksional nya.
Ada beberapa pendekatan yang digunakan oleh Pengawas dan Kepala Sekolah dalam mensupervisii guru mereka. Seorang supervisor yang dapat menggunakan kontrol langsung, kontrol tidak langsung atau kolaborasi untuk mengawasi guru nya.
Kepala sekolah menggunakan kontrol langsung (Supervisi Kelas) pengawasan sebagai metode untuk lebih mengenal kreativitas serta kemampuan guru-gurunya dalam mengelola PBM . Digunakan ketika Kepala Sekolah atau Pengawas ingin melihat langsung kinerja guru dalam kelas secara langsung. Pengawas atau kepala sekolah akan menggunakan jenis pengawasan ini ketika guru tidak sesuai antara adminstrasi dengan kinerjanya di dalam kelas dan ketika guru apatis terhadap pekerjaan.
Pendekatan Tidak langsung adalah jenis Supervisi yang digunakan ketika guru memiliki banyak pengalaman dan pengetahuan. Seorang guru yang menerima jenis Supervisi biasanya memiliki pengelolaan kelas yang baik dan keterampilan pengajaran, guru yang mampu menciptakan berbagai metode pengajaran dan rencana. Pembelajaran yang baik , Di dalam jenis supervisi ini Pengawas atau kepala sekolah tidak menyisipkan ide-ide nya kecuali secara khusus bertanya.
Kolaborasi adalah jenis lain dari pengawasan yang digunakan oleh Supervisor. Kepala sekolah menggunakan jenis pengawasan untuk memecahkan masalah, bernegosiasi secara langsung. Kepala sekolah dan guru merumuskan ide-ide tentang bagaimana untuk memecahkan masalah dengan bekerja bersama.
Saya pikir supervisi kolaborasi adalah jenis supervisi terbaik yang seorang pelaku dapat gunakan. Hal ini memungkinkan guru untuk mendapatkan masukan. Hal ini juga memungkinkan kepala sekolah dan guru untuk mengembangkan hubungan lebih erat baik sebagai partner ataupun bawahan dan atasan. Itu membuat guru merasa lebih baik dengan mengetahui bahwa kepala sekolah atau atasan mereka menghormati pendapat mereka. Namun, tidak ada jenis supervisi yang universal atau baku itu tergantung metode Kepala sekolah atau pengawas yang harus mengevaluasi guru dan lingkungan kerja dan menentukan jenis kepemimpinan yang diperlukan oleh guru
Jadi buat teman-teman yang akan di supervisi minggu ini semangat dan jangan menganggap supervisi sebagai hantu yang menakutkan , karena dengan supervisi kita akan mengetahui kelemahan dan kelebihan kita dalam proses belajar mengajar serta administrasi (RPP, Silabus, KKM, Analisis). Saya sendiri yang merupakan Urusan Pengajaran harus di supervisi oleh Kepala Sekolah Hari Jumat kemarin
nb: Ditulis untuk semua rekan guru yang masih khawatir dengan supervisi kelas yang akan mereka hadapi minggu ini
Sekolah kami SMP Negeri 3 Lembang yang terletak di pelosok sangat minim dalam hal fasilitas serta sarana PBM , tanpa Laboratorium, tanpa Perpustakaan dan juga ruangan kelas yang masih kurang. Karena Kekurangan ruangan tetapi tidak bisa menolak semua pendaftar Siswa baru tiap tahun maka akhirnya gudang pun kami fungsikan sebagai RKB.
Beruntunglah dengan Kepala Sekolah kami yang baru Drs. Muhammad Yunus, maka sekolah kami mulai menggeliat dengan misi 4 D, Disiplin Datang , Disiplin Masuk, Disiplin Berpakaian dan Disiplin pulang dan beliau langsung memberi contoh dengan datang selalu paling awal ke Sekolah dan pulang paling akhir.
Beliau juga mengajar langsung di kelas dan bila ada guru yang berhalangan datang maka ia akan langsung menggantikan guru tersebut mengajar di kelas. Karena Perubahan itulah maka siswa yang tahun-tahun kemarin acuh dan malas datang ke Sekolah, akhirnya menjadi rajin karena melihat keseriusan guru-guru dalam melaksanakan tugas.
Kepala sekolah juga selalu berperan aktif dengan mengirim guru mengikuti pelatihan tentang model-model pembelajaran, Metode CTL, PAKEM serta lesson study. Karena hal-hal tersebut maka guru-guru di sekolah kami dari guru yang sekedar menunaikan kewajiban mengajar sekarang menjadi guru yang lebih inovatif. Dimana sebelum Tahun ajaran baru dimulai maka guru-guru telah menyelesaikan RPP, KKM dan Silabus mereka masing-masing, kemudian beberapa teman guru juga telah membuat Media Pembelajaran baik berupa alat peraga atau LK. Perlu diketahui bahwa di Sekolah kami baru 2 orang guru yang lulus Serifikasi Guru Profesional ,sedang yang lainnya adalah guru - guru baru
Bak Gayung bersambut sekolah kami tahun ini juga mendapat bantuan 2 RKB baru dari Pemerintah berarti semester depan kami bisa mengucapkan selamat tinggal buat Gudang Sekolah yang sumpek tanpa Ventilasi yang memadai
Get ideas, think about topic, discuss it with others, read about it. Then sequence your ideas.
• Stage 2 : Drafting
Write your First version. You can make changes as you write.
• Stage 3 : Revising
Read through to see if your writing makes sense and that the main purpose of your story is clear. Delete unnecessary words, details or events. Read your story aloud to yourself and decide whether it sounds good or not. Check to see that the vocabulary is appropriate and the organization is clear and logical. Use the thesaurus
to help you select suitable vocabulary. You can also exchange and edit each other's script.
• Stage 4 : Proof-reading
Check your spelling and punctuation. You can do this yourself or ask someone else.
• Stage 5 : Presentation
Write the final version neatly. Present it attractively for your reader.
Bangun pagi pukul 4.30 , mandi , shalat sarapan sekedarnya lalu pukul 5.45 saat orang lain masih duduk menikmati kopi di pagi hari aku sudah harus meninggalkan rumah, demikianlah rutinitas sehari-hari yang harus saya jalani selama hampir 6 tahun belakangan , sekolah yang berjarak 42 KM dari rumah terasa dekat sudah, cuma rasa capek itu sekarang malah lebih terasa.
Akhir-akhir ini rasa capek itu sedikit terobati dengan kehadiran tiga siswa baru di sekolahku yang selalu datang lebih pagi dari aku, meski rumah mereka sekitar 9 km dari sekolah, namun mereka tempuh dengan bersepeda sekitar 20 menit saja, mereka selalu tersenyum hangat saat aku tiba di sekolah pada pukul 7.00, namun satu yang siswa yang menarik perhatian saya adalah siswa yang bernama Asri.
Asri pendiam dan hanya sesekali menjawab bila diberi pertanyaan, namun bila disuruh mengerjakan sesuatu maka ia akan langsung menyelesaikannya tanpa banyak bicara. Saat istirahat sekolah aku sempat ngobrol dengan dia " Nak kamu tinggal dimana , kelihatannya kamu beda dengan teman-teman kamu, jarang bermain bersama, jarang tertawa dan tidak pernah ke kantin". Dengan raut muka datar ia menjawab dengan sesuatu yang membuat hati saya miris " saya tinggal di Arra pak gunung sebelah utara sekolah ini, jaraknya sekitar 9 km dari sini, dari kecil saya memang jarang bermain pak, karena kami hidup dalam kemiskinan ibupun harus susah payah menghidupi saya beserta adik setelah ditinggal oleh pergi oleh bapak, namun 3 bulan lalu ibu seakan kehilangan semangat hidup setelah adik saya meninggal karena sakit , jadi sekarang sayalah yang harus bekerja pak sepulang sekolah , jadi kira-kira kesenangan apa yang bisa membuat saya bermain dan tertawa , buat saya tawa itu memang sudah lama hilang. Tenggorokan saya terasa tercekat dan tidak bisa bertanya lagi.
Tadi pagi saya berangkat ke Sekolah seperti biasanya namun ada sesuatu yang lain pagi ini hanya dua orang siswa yang duduk di pintu masuk sekolah asri nggak kelihatan, lalu aku aku tanya pada Edi siswa satunya lagi ,
" Asri mana nak kok tidak bersama kalian".
" Bapak tidak datang hari Sabtu ya",
' iya nak aku deman dan tidak bisa bawa motor hari itu".
" Saat pulang dari nonton acara tujuh belasan pada hari Jumat sore di tanjakan Waru , rantai sepeda asri lepas Pak, ia lalu tunduk untuk memasangnya kembali seperti yang sering ia lakukan selama ini , namun malang pak dari bawah sebuah sepeda motor melaju kencang dan langsung menyeretnya sejauh 20 meter, kepalanya terbentur keras dan ia tidak tertolong lagi , semuanya terjadi begitu cepat pak bahkan kami tidak sempat untuk berteriak dan dia sudah pergi". Setelah mendengar semua itu entah kenapa Kepalaku terasa Pening dan aku langsung masuk kantor tiduran , bahkan Upacara Bendera Pun urung kuikuti tadi pagi.
Semua begitu bersedih dan rencananya besok sepulang sekolah kami akan berangkat ke gunung tempat tinggal Asri , meski mayatnya sudah dikebumikan namun kami ingin memberikan dukungan moril kepada ibunya yang telah kehilangan kedua anaknya , sekaligus kami ingin memberikan sumbangan ala kadarnya dari semua siswa sekolah kami. Beristirahatlah dengan tenang siswaku semmoga sekarang kesibukan dan bebanmu sudah hilang.
Ini adalah gugusan pegunungan sebelah utara sekolah kami tempat tinggal Asri
Today, technology helps people meet goals that would have been impossible a hundred years ago. But it also presents great challenges, or issues to think about. One challenge is finding ways to end the harmful effects of technology. Another is how to make sure the same problems won’t happen with new technologies.
Technology has helped people in many different ways. First of all, it allows them to make more things now than they did in the past. For example, 150 years ago, people and animals did most of the work on farms in Indonesia. Today, machines do most of the work on Indonesia Farms.
Another way technology has helped people is by giving them more time to relax. Because machines can do so much work, people today do not have to work as hard as people in the past. Technology has also made work easier and safer.The technology that helped bring about our modern society began about 200 years ago. At that time, more and more factories were built. These factories began using machines powered by steam. The machines could make things faster and often cheaper than people could make them by hand. This kind of technology affected people’s lives more and more. It has had both helpful and harmful effects on the world
Pollution is one of the most harmful effects of modern technology. Many countries face air, water, soil, and noise pollution. Our technology also uses up many natural resources, such as oil, wood, and coal. Many of these resources cannot be replaced after they are used.
Another problem with technology is that it lets people produce more powerful weapons. Such weapons make the world a more dangerous place
Propinsi di Indonesia ± 58% mempergunakan gamelan sebagai musik tradisinya, adapun propinsi yang mem- pergunakan gamelan sebagai musik utama. Dan gamelan adalah salah satu kebudayaan Nasional yang harus dilestarikan, namun sayang generasi muda kita jarang yang mau belajar Gamelan hanya yang tua-tua yang berusaha menggunakan alat musik ini.
Dibawah ini propinsi yang menggunakan gamelan
Lampung , namanya Talo Balak Sumatera Selatan, namanya Kelintang 12 Jambi , namanya Kelintang/Tauh Sumatera Barat, namanya Talempong Kalimantan Selatan, namanya Gamelan Banjar Kalimantan Tengah, namanya Gandang Garantung Jawa Tengah, namanya Gamelan Jawa Barat, namanya Degung Jawa Timur, namanya Gamelan Yogyakarta, namanya Gamelan Bali , namanya Gamelan NTB (Kabupaten Lombok),namanya Gamelan Lombok Kabupaten Lombok, namanya Gamelan Gendrung Kabupaten Sumbawa, namanya Gamelan Sumbawa Kabupaten Bima, namanya Gamelan Bima
Sumber : Central Javanese gamelan instruments (From JT Titon [ed.]. Worlds of Music 235)
Meski kurang diminati oleh generasi muda namun di luar negeri Gamelan sangat digemari oleh bangsa-bangsa Eropa atau bahkan Amerika Sendiri. Gamelan atau gangsa adalah campuran dari perkataan tembaga ditambah rejasa. Tembaga dan rejasa adalah nama logam yang dicampur dengan cara dipanasi. Selain dari tembaga juga dapat dibuat dari jenis logam lain seperti kuningan dan besi, namun agar dapat menghasilkan kualitas suara yang baik, gamelan dibuat dengan cara ditempa.
Gamelan gaungnya telah mendunia, komponis abad 20 Debussy, pernah mengadopsi laras gamelan (Pentatonik) untuk komposisinya. Festival Gamelan Dunia I diadakan di Vancouver Canada pada tanggal 18-21 Agustus 1986, di Indonesia festival Gamelan I baru diadakan di Yogyakarta pada tanggal 2-4 Juli 1995. Dan puncaknya seperti yang dilansir oleh Metro TV bahwa Amerika menjadikan Gamelan masuk kedalam kurikulum pendidikan di Amerika. Kalau orang dari luar saja begitu menghargai kebudayaan Nasional Kita, mengapa kita tidak berusaha untuk melestarikannya.
Kita akui bahwa negeri indonesia bagaikan surga dunia, dengan alam yang subur , sumber daya alam melimpah maka tidak salah kalau koes plus dalam lagunya "kolam susu" mengatakan
Bukan Lautan Hanya KolamSusu
Kail dan Jalan Cukup Menghidupimu
Tiada Badai Tiada Topan Kau Temui
Ikan dan Udang Menghampiri Dirimu
Bukan Lautan Hanya KolamSusu
Kail dan Jala Cukup Menghidupmu
Tiada Badai Tiada Topan Kau Temui
Ikan dan Udang Menghampiri Dirimu
Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga
Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman
Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga
Tongkat Kayu dan Batu Jadi Tanaman
Alangkah berbahagianya kita hidup di negeri ini bila memang mau bekerja maka tersedia sumber yang melimpah ruah, namun karena karunia itulah maka rakyat kita cenderung dininabobokkan oleh keadaan yang serba subur ,iklim yang bersahabat dan inilah yang menciptakan kemalasan secara turun temurun. Lain halnya dengan negeri Jepang , sebuah negeri yang pernah hancur lebur oleh 2 bom atom dahsyat yang meluluhlantakkan infrastruktur dan sendi-sendi perekonomian mereka, alam mereka yang begitu tidak bersahabat, tanah yang tidak begitu subur, musim salju yang extreme serta gempa yang hampir sepanjang hari, namun karena hal tersebut rakyat Jepang berusaha bertahan menghadapi tantangan tersebut, maka lahirlah gedung anti gempa, serta ilmu bercocok tanam yang maju, kemudian industri robot dan elektronik , yang bikin semua mata terpana.
Ya Jepang seakan ingin membalas dua ledakan bom atom tersebut dengan membuat semua mata mengarah kesana, dan hasilmya memang kita bisa lihat sekarang , sampai gaya Jepang pun menjadi trend , siapa yang nggak kenal style Harajuku,
Namun memang membandingkan indonesia dengan Jepang masih terlalu jauh, tapi kita tidak boleh terlalu berkecil hati, Indonesia sebenarnya juga punya potensi untuk mengembangkan, sumber daya manusianya dan karena potensi memang ada, cobalah kita ingat berapa siswa indonesia yang telah berjaya di Olympiade Sains di luar negeri, cukup banyak bukan? kemudian beberapa mahasiswa kita sudah bisa membuat robot untuk memadamkan Api, jadi sebenarnya Indonesia juga bisa.
Menurut Steven Haryanto (analisis sistem dan pemerhati securiti) di tulisannya pada PC Mild no 02 2009 kemalasan sebenarnya bisa mendatangkan kreativitas, lihatlah karena kemalasan maka lahirlah joki three in one, dan sms yang membunuh kartu ucapan. Namun karena kreativitas itu malah sering juga sampai menimbulkan perilaku instan yang kebablasan seperti , hack facebook cuma untuk mencari chip poker, membuat blog autocontent, atau bahkan praktek korupsi sendiri yang pingin kaya tanpa banyak bekerja.
Saya berharap setelah kehidupan Indonesia juga tidak mudah lagi maka juga akan mendidik rakyai negeri ini untuk menjadi kreatif dalam mengatasi masalah dan mencari hal-hal baru yang bisa memudahkan dalam menjalani kehidupan ini.
Pemenang komentar kreatif dan unik kemarin adalah jatuh kepada saudara Rizky
Silahkan Kirim alamat lengkapnya ke iconkji@gmail.com
dan cantunkam apakah anda memilih majalah PC Media / PC Chip Plus CD
atau buku saku tersebut
ya demikianlah tali asih sekedarnya semoga berkenan ya
Disadur dengan penambahan dari Tulisan Steven Haryanto (analisis sistem dan pemerhati securiti) di tulisannya pada PC Mild no 02 2009
The statement about learning in general, that it “never takes place in vacuum is even more true in the language class. When it comes to creating a classroom climate for language learning. Williams and Burden point to three levels of influence: national and cultural influences on the language being learning, the education system where the language is being learned, and the immediate classroom environment. Influences on the language being learned are already determined, as is the education system.
However, teachers do influence the classroom environment by motivating unmotivated students. There are many ways in which students can be off task. They fail to take part by sitting in silence, they distract other students by talking off the topic, and they provide “non language” entertainment. All of these call for the teacher management skills. Even taking into account differences from class to class, teachers of a range of learners and subjects that they can make a difference, as the examples that follow show. In language learning, motivation is more specific than in content-based subject. The history teacher can motivate students to take an interest in the subject, but the language teacher is looking for more than interest. Language is a skill, and a skill needs to be apply, not just stored in the head or admired at this time.
Teachers encourage language use trough both intrinsic and extrinsic motivation. Some students have strong intrinsic motivation; they know the benefits of learning a particular language. Others need to be reminded of where success could lead. For example, in societies where studying literature is an important part of the education system, teachers emphasize the benefits of being able to read English poetry, short stories, and novels and the original.
Extrinsic motivation can come through rewards teachers supply interesting additional reading materials, they show a video to follow difficult language task, or they invite guest speakers so that students use the new language in an authentic way. Occasionally, though rewards can take over and destroy enjoyment ( Van lier : 1996) In monolingual class teachers reports particular difficulty in persuading students to Speak English. The following ideas have worked in small and large classes:
Role play, with one student taking the role of a foreigner
Native-speaking visitors answer question on specific topics
Pen friends, by mail or E-mail
Group presentations of topics students have researched
Interclass debates
Speech competitions
plays and singing
Although the ultimate goal is to speak English, in classes where students speak different first language, it can help motivation to allow limited use of the first language in class for specific purposes. For example, the first language helps in clarifying a difficult point or planning the organizational part of projects, particularly when the teacher does not speak the languages of all the students.
An aspect of motivation is dealing with the behavior of particular students. Experienced teachers usually have a scale of responses to off-task behavior, which helps them decide whether to ignore or attend to the problem.
Teacher also knows that if large numbers of students are failings to attend to the lesson. There could be a problem with the lesson itself. The task may be too difficult, or it may have continued for too long, or the content may be boring. On the other hand, the problem may not be within the class at all. Or even unusual weather can change the mood of a class and signal to the teacher the need for a change of a activity
.
The statement about learning in general, that it “never takes place in vacuum is even more true in the language class. When it comes to creating a classroom climate for language learning. Williams and Burden point to three levels of influence: national and cultural influences on the language being learning, the education system where the language is being learned, and the immediate classroom environment. Influences on the language being learned are already determined, as is the education system. However, teachers do influence the classroom environment by motivating unmotivated students. There are many ways in which students can be off task. They fail to take part by sitting in silence, they distract other students by talking off the topic, and they provide “non language” entertainment. All of these call for the teacher management skills. Even taking into account differences from class to class, teachers of a range of learners and subjects that they can make a difference, as the examples that follow show.
In language learning, motivation is more specific than in content-based subject. The history teacher can motivate students to take an interest in the subject, but the language teacher is looking for more than interest. Language is a skill, and a skill needs to be apply, not just stored in the head or admired at this time.
Teachers encourage language use trough both intrinsic and extrinsic motivation. Some students have strong intrinsic motivation; they know the benefits of learning a particular language. Others need to be reminded of where success could lead. For example, in societies where studying literature is an important part of the education system, teachers emphasize the benefits of being able to read English poetry, short stories, and novels and the original.
Extrinsic motivation can come through rewards teachers supply interesting additional reading materials, they show a video to follow difficult language task, or they invite guest speakers so that students use the new language in an authentic way. Occasionally, though rewards can take over and destroy enjoyment ( Van lier : 1996)
In monolingual class teachers reports particular difficulty in persuading students to Speak English. The following ideas have worked in small and large classes:
Role play, with one student taking the role of a foreigner
Native-speaking visitors answer question on specific topics
Pen friends, by mail or E-mail
Group presentations of topics students have researched
Interclass debates
Speech competitions
Concerts with plays and singing
(basojabu@yahoo.com)
Although the ultimate goal is to speak English, in classes where students speak different first language, it can help motivation to allow limited use of the first language in class for specific purposes. For example, the first language helps in clarifying a difficult point or planning the organizational part of projects, particularly when the teacher does not speak the languages of all the students.
An aspect of motivation is dealing with the behavior of particular students. Experienced teachers usually have a scale of responses to off-task behavior, which helps them decide whether to ignore or attend to the problem.
Teacher also knows that if large numbers of students are failings to attend to the lesson. There could be a problem with the lesson itself. The task may be too difficult, or it may have continued for too long, or the content may be boring. On the other hand, the problem may not be within the class at all. Or even unusual weather can change the mood of a class and signal to the teacher the need for a change of a activity